Wednesday, 16 November 2016

Kisah si Manis Bernama Martabak


Martabak manis merupakan makanan asli Nusantara. Pertama kali muncul di kota Sungailiat, Pulau Bangka pada akhir abad 19. Kota ini sampai sekarang terkenal dengan kekayaan kulinernya. Ketika itu banyak perantau dari Tiongkok yang datang untuk bekerja di pertambangan timah. Selain di pertambangan, ada juga yang akhirnya bercocok tanam dan berbisnis kuliner.

Salah satu pendatang Tionghoa tersebut lalu membuat kue dari adonan terigu dan telur yang dipanggang dalam loyang berbentuk bundar. Setelah mengembang, kue itu kemudian ditaburi gula pasir dan wijen. Ternyata, kue itu disukai banyak orang dan dinamai Hok Lo Pan yang artinya kue orang Hok Lo. Hok Lo sendiri adalah salah satu suku bangsa Tiongkok.

Popularitas Hok Lo Pan pun sampai ke Pangkalpinang, ibukota Pulau Bangka dan terus merambah ke daerah-daerah lainnya di Sumatera. Hok Lo Pan juga dikenal dengan nama Kue Pangkalpinang dan Kue Terang Bulan karena waktu itu kuenya tidak dilipat, melainkan disajikan dalam bentuk bulat seperti purnama dengan taburan wijen, kacang tanah, dan gula.

Di tahun 1965, seorang perantau dari Bangka bernama Bong Kap Djoen datang ke Bandung. Diilhami oleh saudara jauhnya yang menjual Hok Lo Pan, ia pun tertarik dengan usaha yang sama. Ia membuat gerobak lalu berjualan Hok Lo Pan di Jl. Asia Afrika, yang lokasinya jauh dari tempat saudaranya itu. Awalnya Hok Lo Pan sangat sederhana, hanya ditaburi gula pasir dan kacang saja, serta dibungkus kertas koran dan dinamakan Kue Ekonomi. Karena laris, akhirnya muncul pesaing-pesaing baru.

2 tahun kemudian, Bong Kap Djoen pindah ke Jl. Gatot Subroto, Bandung dan menamakan usahanya Martabak San Fransisco yang terilhami lagu Scott McKenzie yang berjudul “San Francisco”. Bong lalu dengan kreatif membuat variasi baru dengan taburan kacang dan coklat meises, serta menambahkan susu kental manis.

Di tahun 1980-an, mulai digunakan keju dan mentega untuk menambah kelezatan martabak. Selain kreasi martabak, Bong juga berkreasi dengan kompor martabak, yang semula menggunakan arang, beralih ke gas dengan desain yang kini lazim digunakan penjual martabak. Saudara-saudara dan mantan karyawan Bong akhirnya ikut bergelut di bisnis ini dan menamakannya Martabak Bangka.

Di Semarang, perantau dari Bangka bernama Cen juga ikut berjualan Hok Lo Pan di Jl. Gajah Mada. Usahanya bersebelahan dengan Mie Bandung yang dimiliki perantau dari Bangka juga bernama Moi Yan. Mie Bandung, kala itu sangat laris dan terkenal. Biar sama-sama laris, Cen kemudian menamakan usahanya dengan nama Kue Bandung.

Di Yogyakarta dan kawasan Indonesia Timur, martabak manis lebih dikenal dengan nama Terang Bulan. Khusus di Pontianak, namanya Apam Pinang. Ternyata di Malaysia pun ada penganan yang mirip, namanya Apam Balik.

Saat ini banyak sekali penjual martabak dengan menawarkan berbagai keunikan dan inovasi. Salah satunya adalah Martabak Factory yang berdiri sejak tanggal 18 Februari 2015. Sejak awal, kami mengembalikan bentuk martabak ke asal mulanya, yakni tidak dilipat. Kami menyajikan martabak dengan ukuran besar maupun ukuran mini untuk melayani pelanggan perorangan yang makan martabaknya sendiri. Untuk yang mini, juga bisa ditambahkan es krim. Sedangkan untuk yang besar, ada berbagai pilihan topping untuk satu porsi martabak.

Demikianlah sedikit cerita tentang martabak manis. Minggu depan, kita akan membahas tentang Martabak Asin.

Sumber:
  1. http://www.martabaksanfrancisco.com/tentang-kami
  2. http://www.yukmakan.com/article-detail.asp?id=1000078

No comments:

Post a Comment